21 April 2026

SURABAYA – “Nggak perlu iri sih kalau melihat teman-teman kita tampil cantik. Yang penting bisa terbayarkan dengan event yang berjalan dengan sempurna.”
Senyum tulus dari sang ketua pelaksana itu seolah merangkum realitas di balik layar SMADA JUITA, acara peringatan Hari Kartini di SMA Negeri 2 Surabaya. Seperti namanya, Juita yang bermakna cantik, Maja Nareshwari sengaja memakai kata tersebut karena ia berharap agar perempuan di SMADA bisa tangguh seperti Kartini. Di saat panggung utama merayakan dengan balutan kebaya warna-warni, pilar-pilar penggerak acara ini justru merayakannya dengan cara yang jauh dari kata estetik. Ada Ibu Izatul A’yun Syaibani, M.Pd. sebagai pembina utama, Maja yang menjadi nahkoda di lapangan, serta Andi Syarifah yang mengendalikan divisi kreatif. Panggung memang merayakan emansipasi yang anggun, namun bagi mereka, kemerdekaan sejati justru dihidupi dengan peluh dan kebesaran hati.
Perayaan Hari Kartini sering kali terjebak pada euforia busana adat. Padahal jika kita mengupas esensi sejarahnya, RA Kartini tidak pernah berorasi di atas panggung besar. Ia mengubah peradaban dari dalam batas dinding kamarnya melalui goresan pena dan pemikiran. Bagi perempuan muda hari ini, musuh terbesar kesetaraan bukanlah larangan bersekolah, melainkan krisis kepercayaan diri untuk mengambil keputusan.
Menjadi penggerak di balik layar tidaklah seindah riuh tepuk tangan penonton. Bagi Maja, kegiatan SMADA JUITA yang diselenggarakan pada 21 April 2026 menjadi memori yang paling menguji batas kewarasannya. Menyatukan ratusan isi kepala teman sebaya sekaligus memastikan tidak ada celah teknis membuat jam tidurnya terampas. “Waktu bikin proposal sih, soalnya kan mepet dan tabrakan sama Celeste, event eksternal kita selanjutnya yang sudah kita prepare dari jauh-jauh hari. Seminggu sudah harus ngejar revisi proposal, rapat, dan persiapan lainnya,” ungkap Maja. Sebagai pemimpin, ia dituntut mengesampingkan egonya. Ia tidak memiliki kemewahan untuk ikut panik.
Sementara itu, Andi Syarifah mendefinisikan emansipasinya lewat dedikasi tanpa henti. Jika sebagian orang merasa kurang eksis saat bekerja di balik layar, Andi justru menepisnya dengan santai. “Senang banget tiap ikut andil di event-event SMADA. Karena disiplin dan time management aku beneran terbentuk sih. Dari jauh hari mikirin konsep desainnya, dan hari H-nya lanjut jadi live report,” jelas Andi.
Segala kepanikan Maja dan kesibukan Andi di balik layar diam-diam menjadi pemandangan yang melegakan bagi sosok yang akrab disapa Bu Ayun. Sebagai pembina, ia tidak melihat hal itu sebagai sebuah kekacauan, melainkan sebuah proses pendewasaan yang nyata. “Alhamdulillah sudah bagus sekali, sudah baik dan lancar. Meskipun dengan rundown yang molor, tetapi mereka bisa mengambil tindakan agar event ini bisa tetap on time,” ucap Bu Ayun bangga. Tekanan dan kelelahan yang sempat menjatuhkan mental mereka perlahan memantik sebuah kesadaran baru bahwa kemerdekaan batin harus direbut dengan mendobrak batasan mereka sendiri.
Dari rentetan masalah itulah ketangguhan sesungguhnya terlahir. Maja membuktikan bahwa kepemimpinan perempuan tidak sekadar mengandalkan kelembutan, melainkan ketegasan logika saat krisis melanda.
Bagi Andi, momen peringatan Hari Kartini ini menjadi titik balik personal. Jika Kartini berjuang memerdekakan perempuan dari pingitan, Andi menyadari bahwa pertempuran terbesarnya justru datang dari belenggu di dalam dirinya sendiri. “Kalau aku bisa memerdekakan diri aku, aku mau merdeka dari rasa nggak enak hati sama orang lain. Soalnya selama ini aku sering iya-iya saja kalau diminta orang, terus akhirnya menyesal soalnya capek,” jelasnya.
Menelisik dari sisi sang ketua pelaksana, Maja juga memiliki harapan untuk merdeka dari kebiasaan yang sering ia lakukan. “Aku pengen merdeka dari kebimbangan aku dalam mengambil keputusan. Apalagi contohnya saat ini aku menjadi ketua pelaksana, harusnya keputusanku yang lebih banyak didengar tapi aku bimbang,” ujarnya.
Fakta ini selaras dengan harapan Bu Ayun. Bagi sang guru, membiarkan murid-muridnya berdarah-darah menghadapi masalah di lapangan adalah simulasi terbaik melatih kesabaran hati. “Kalau kita berbicara karakter, artinya kita harus berakhlak. Kalau kita tidak berakhlak maka otomatis jati diri kita akan jatuh. Harus punya semangat juang dan jangan takut mencoba, karena suatu hari akan sangat digunakan di saat anak muda akan merasakan menjadi pemimpin,” jelas Bu Ayun.
Sorot lampu panggung telah redup, menandakan kemegahan SMADA JUITA telah mencapai akhirnya. Kebaya-kebaya cantik itu akan kembali dilipat ke dalam lemari, dan riasan di wajah akan segera terhapus air. Namun, mental baja yang ditempa oleh Maja, Andi, dan kawan-kawan panitia tidak akan pernah luntur. Karena pada akhirnya, emansipasi sejati diukur dari seberapa tangguh ia berani mengambil kendali, baik di hiruk-pikuk lapangan maupun di keheningan balik layar. (DSM)

Dokumentasi: Apel Smada Juita

